Selasa, 14 Februari 2012

peredaran darah manusia


BAB I PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang

Darah merupakan jaringan tubuh yang memiliki fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Pada orang dewasa yang sehat, volume darah kira-kira 8% dari berat badan atau lebih kurang lima liter. Sistem sirkulasi pada manusia terdiri dari jantung, pembuluh darah, pembuluh limfa, dan alat angkut utama (yaitu darah). Darah dapat mengangkut gula, asam amino, garam mineral, dan vitamin, sedangkan lemak diangkut oleh getah bening.
Jantung merupakan alat transportasi darah yang mendukung peredaran darah keseluruh tubuh. Setiap orang memiliki ukuran jantung yang berbeda-beda, sesuai dengan kepalan tangan masing-masing orang. Jantung manusia terletak dirongga dada sebelah kiri dan diatas diafragma. Dinding jantung terdiri dari lapisan pembungkus jantung (Pericardium), otot jantung (miokardium), dan selaput yang membatasi ruang jantung (endokardium). Jantung bekerja sesuai dengan perintah saraf otonom yang berpusat diotak. Kerja jantung dipengaruhi oleh keadaan kontraksi dan relaksasi (mengembang dan mengerut).
Pembuluh darah merupakan bagian dari sistem peredaran darah yang berfungsi mengalirkan darah. Pembuluh darah pada manusia terdiri dari pembuluh nadi (arteri), pembuluh balik (vena), dan pembuluh kapiler.    
Getah bening merupakan cairan kekuning-kuningan, yang mengisi rongga antar sel pada jaringan tubuh, dan tersusun dari sel-sel darah putih. Getah bening disebut juga limfe. Peredaran getah bening merupakan peredaran darah terbuka.
Anemia Defisiensi Besi (ADB) adalah anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoiesis, oleh karena cadangan besi kosong yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin yang berkurang. Anemia Defisiensi Besi ini adalah anemia yang paling sering dijumpai, terutama di Negara-negara tropik, karena sangat berkaitan erat dengan taraf social ekonomi (Bakta dkk, 2006).


2.    Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1)   Menjelaskan pembagian sistem sirkulasi.
2)   Menjelaskan struktur dan fungsi jantung.
3)   Menjelaskan struktur dan fungsi pembuluh darah.
4)   Menjelaskan komposisi darah dan fungsinya.
5)   Menjelaskan proses ertropoiesis.
6)   Menjelaskan proses pengangkutan oksigen.
7)   Menjelaskan proses pengangkutan karbondioksida.

3.    Pembatasan Masalah

Agar makalah ini lebih terarah dan terfokus maka penulis perlu memberi batasan masalah. Batasan masalah ini hanya pada sistem peredaran darah.

4.    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah pada makalah ini sebagai berikut: “ Apakah ada fungsi peredaran darah tersebut bagi manusia?”

5.    Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini diharapkan mahasiswa:
1)   Mengetahui pembagian sistem sirkulasi, struktur dan fungsi jantung.
2)   Mengetahui struktur dan fungsi pembuluh darah serta komposisi darah dan fungsinya.
3)   Mengetahui proses eritropoiesis, proses pengangkutan oksigen, dan proses pengangkutan karbondioksida.
BAB II PEMBAHASAN

A.  Darah
Darah merupakan jaringan tubuh yang memiliki fungsi yang sangat penting untuk kelangsungan hidup kita. Pada orang dewasa yang sehat, volume darah kira-kira 8% dari berat badan atau lebih kurang lima liter. Sistem sirkulasi pada manusia terdiri dari jantung, pembuluh darah, pembuluh limfa, dan alat angkut utama (yaitu darah). Darah dapat mengangkut gula, asam amino, garam mineral, dan vitamin, sedangkan lemak diangkut oleh getah bening.
1.    Fungsi Darah
Ø Darah sebagai alat pengangkut
Darah mengangkut sari-sari makanan dan oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Darah juga mengangkut zat-zat sisa pembakaran (oksidasi), yaitu karbondioksida dari sel-sel tubuh ke paru-paru. Darah mengangkut zat-zat sisa metabolisme kea lat-alat pengeluaran (alat-alat eksresi). Darah juga berfungsi mengedarkan hormon ke organ tubuh tertentu dan mengedarkan air ke seluruh tubuh.
Ø Darah sebagai alat pertahanan tubuh dari penyakit
Zat antibodi yang terdapat dalam darah berfungsi mempertahankan kekebalan tubuh dari penyakit. Sel darah putih dalam darah berfungsi membinasakan kuman-kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
Ø Darah sebagai pengatur suhu tubuh
Darah memindahkan panas dari alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif sehingga keseimbangan suhu tubuh dapat terjag.
Ø Darah melakukan proses pembekuan darah
Bila terjadi luka, sel-sel darah pembeku akan melakukan proses pembekuan darah sehingga darah tidak terus-menerus keluar. Dengan demikian, luka akan tertutup sehingga mencegah infeksi kuman penyakit.

2.    Bagian- bagian Darah
Darah manusia terdiri dari beberapa bagian sebagai berikut:

Ø Plasma Darah (Cairan Darah)
Zat-zat yang dapat larut didalam plasma darah adalah protein darah, sari makanan, (glukosa dan asam amino), enzim, antibodi, hormon dan zat sisa metabolisme. Sebagian besar dari plasma darah terdiri dari 90% air, sisanya adalah sari makanan, mineral, hormon, antibodi, karbondioksida, protrombin, dan fibrinogen. Lihat Gambar 1.1.
 








                                                                                 Sumber: www.Wikipedia.org
              
              Gambar 1.1 darah manusia yang tersusun dari sel-sel darah dan plasma darah.
Fungsi plasma darah adalah mengedarkan sari makanan ke sel tubuh, mengangkut sisa oksidasi dari jaringan tubuh kealat pengeluaran, dan mengedarkan hormon. 

Ø Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah merupakan bagian utama dari sel-sel darah, karena jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan sel darah lainnya. Pada janin (fetus) sel darah merah dibentuk dihati dan limpa. Setelah bayi dilahirkan, sel darah merah dibentuk disumsum tulang. Pada orang dewasa, setiap satu mililiter darah mengandung kira-kira lima juta butir sel darah merah. Jumlah sel darah merah menjadi lebih banyak bila orang tersebut tinggal di dataran tinggi (pegunungan). Hal ini disebabkan oksigen di dataran tinggi berkadar rendah sehingga tubuh harus membuat lebih banyak sel darah merah agar dapat mmengikat oksigen lebih banyak. Keadaan ini merupakan adaptasi tubuh terhadap lingkungan,
Sel darah merah
 
Bentuk sel darah merah adalah bulat pipih, kedua permukaannya cekung dan tidak berinti. Lihat Gambar 1.2.


Text Box:
 








                                                                                        Sumber: www.wikipedia.org
  Gambar 1.2 sel-sel darah merah.
Sel darah merah hanya mampu hidup selama 120 hari. Dalam setiap 1 mm2 darah, terdapat sekitar 5.000.000 sel darah merah. Zat yang menyebabkan darah berwarna merah adalah hemoglobin. Fungsi hemoglobin adalah untuk mengikat oksigen dari paru-paru dan mengedarkannya keseluruh tubuh. Orang yang mengalami kekurangan darah merah dapat menderita anemia. Ciri-ciri penderita anemia adalah pucat, lemah, dan lesu.
Ø Sel Darah Putih (Leukosit)
Leukosit adalah sel darah Yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Sel darah putih lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan sel darah merah. Pada orang dewasa yang normal, setiap satu mililiter darah mengandung kira-kira 8.000  sel darah putih. Sel darah putih dibuat di dalam sumsum merah, limpa, dan kelenjer getah bening (kelenjer limfe).
Sel darah putih bermacam-macam jenisnya, yaitu neutrofil, basofil, eosinofil, monosit, dan limfosit. Lihat Gambar dalam tabel 1.3.
Tabel 1. Tipe-tipe leukosit, diagram, serta % dalam tubuh manusia
No
Tipe Leukosit
Diagram
% dalam tubuh manusia
Keterangan
1
Text Box:  Neutrofil




Text Box:
65 %
Neutrofil berhubungan dengan pertahanan tubuh terhadap infeksi bakteri serta proses peradangan kecil lainnya, serta biasanya juga yang memberikan tanggapan pertama terhadap infeksi bakteri; aktivitas dan matinya neutrofil dalam jumlah yang banyak menyebabkan adanya nanah.
2



Text Box:  Eosinofil

Text Box:
4 %
Eosinofil terutama berhubungan dengan infeksi parasit, dengan demikian meningkatnya eosinofil menandakan banyaknya parasit.

3
Text Box:  Basofil






Text Box:
< 1 %
Basofil terutama bertanggung jawab untuk memberi reaksi alergi dan antigen dengan jalan mengeluarkan histamin kimia yang menyebabkan peradangan.
4
Text Box:  Limfosit







Text Box:
= 25 %
Limfosit lebih umum dalam sistem limfa. Darah mempunyai tiga jenis limfosit:
·   Sel B: Sel B membuat antibodi yang mengikat patogen lalu menghancurkannya. (Sel B tidak hanya membuat antibodi yang dapat mengikat patogen, tapi setelah adanya serangan, beberapa sel B akan mempertahankan kemampuannya dalam menghasilkan antibodi sebagai layanan sistem 'memori'.)
·   Sel T: CD4+ (pembantu) Sel T mengkoordinir tanggapan ketahanan (yang bertahan dalam infeksi HIV) sarta penting untuk menahan bakteri intraseluler. CD8+ (sitotoksik) dapat membunuh sel yang terinfeksi virus.
·   Sel natural killer: Sel pembunuh alami (natural killer, NK) dapat membunuh sel tubuh yang tidak menunjukkan sinyal bahwa dia tidak boleh dibunuh karena telah terinfeksi virus atau telah menjadi kanker


5
Text Box:  Monosit









6 %


Monosit membagi fungsi "pembersih vakum" (fagositosis) dari neutrofil, tetapi lebih jauh dia hidup dengan tugas tambahan: memberikan potongan patogen kepada sel T sehingga patogen tersebut dapat dihafal dan dibunuh, atau dapat membuat tanggapan antibodi untuk menjaga.
6.
Text Box:  Magrofag




Text Box:
Lihat diatas
Monosit dikenal juga sebagai makrofag setelah dia meninggalkan aliran darah serta masuk ke dalam jaringan.


Ukuran sel darah putih lebih besar daripada sel darah merah, bentuknya tidak tetap (amoeboid), tidak memiliki warna, dan memiliki inti sel. Fungsi sel darah putih adalah untuk melindungi tubuh dari infeksi, dengan cara memakan kuman-kuman penyakit dan menghasilkan zat antibodi. Sel darah putih dapat hidup sekitar 12-13 hari. Dalam 1 mm2 darah terdapat 6.000-9.000 sel darah putih.













Ø Keping Darah (Trombosit)
Trombosit merupakan komponen tubuh kita yang mengalir bersama dengan sel darah merah dan putih. Keping darah mempunyai ukuran tidak teratur, berukuran kecil, tidak berwarna, dan tidak mempunyai inti. Keeping darah dibentuk di dalam sum-sum merah tulang. Dalam 1 mm3 darah terdapa sekitar 200.000.000 trombosit. Keping darah mempunyai peran dalam pembekuan darah. Lihat Gambar 1.4.

Text Box:   










         Sumber: www.wikipedia.org
Gambar 1.4 keping darah

Jika tubuh mengalami luka, darah akan keluar dan trombosit-nya akan pecah, yang akan mengeluarkan enzim yang disebut trombokinase. Trombokinase akan mengubah protombin di dalam plasma darah menjadi enzim yang disebut trombin. Trombin mengubah protein darah fibrinogen menjadi benang-benang fibrin. Dengan adanya fibrin inilah darah yang keluar bisa membeku. Proses pembekuan darah dapat dilihat pada Gambar 1.5. jika luka yang diderita seseorang hanya dipermukaan otot, biasanya darah cepat membeku. Tetapi bila luka lebih dalam, diperlukan waktu yang lebih lama agar darah membeku.






Text Box:


 



























Gambar 1.5 Proses Pembekuan Darah
Skema proses pembekuan darah dapat dilihat pada bagan berikut.

Pembuluh darah pecah menyebabkan
Keeping darah pecah


Mengaktifkan
 
 

                                                              

                                                    Tromboplastin/ Trombokinase


 






Menyebabkan
 
                                                                   



Darah membeku
 
 










B.  Struktur dan Fungsi Jantung
1.    Struktur Jantung
Jantung merupakan alat transportasi darah yang mendukung peredaran darah ke seluruh tubuh. Setiap orang memiliki ukuran jantung yang berbeda-beda, sesuai dengan kepalan tangan masing-masing orang. Dalam keadaan normal, jantung berdenyut sekitar 70 -80 kali setiap menitnya.
Urutan kerja denyut jantung sebagai berikut:
v Serambi kanan dan serambi kiri mengembang (relaksasi), sehingga darah dari pembuluh balik tubuh dan paru-paru masuk ke serambi jantung.
v Serambi kanan dan serambi kiri menguncup (kontraksi), serta bilik relaksasi, sehingga darah mengalir kebilik jantung.
v Bilik kanan dan bilik kiri menguncup, darah keluar dari bilik kiri melalui aorta ke seluruh tubuh, serta dari bilik kanan ke paru-paru.
v Setelah kedua serambi dan kedua bilik istirahat, kemudian urutan diatas diulang kembali.
Jantung manusia terletak di dalam rongga dada sebelah kiri dan diatas diafragma. Dinding jantung terdiri dari lapisan pembungkus jantung (pericardium), otot jantung (miokardium), bekerja tidak mengikuti kehendak kita, artinya jantung bekerja secara otomatis. dan selaput yang membatasi ruang jantung (endokardium). Jantung manusia terdiri dari empat ruang, yaitu serambi (atrium) kiri, serambi (atrium) kanan, bilik (ventrikel) kiri, bilik (ventrikel) kanan. Serambi jantung berada di sebelah kanan atas, bilik berada di sebelah bawah. Dinding bilik lebih tebal daripada dinding serambi.
Diantara serambi kiri terdapat katup berdaun dua (vulvula bikuspidalis) dan diantara serambi kanan dan bilik kanan terdapat katub berdaun tiga (vulvula trikuspidalis). Katub-katub tersebut berguna untuk menjaga agar darah tidak kembali ke serambi ketika bilik jantung memompa darah. Selain itu, pada pangkal pembuluh nadi terdapat pula katup berbentuk seperti bulan sabit (valvula semilunaris). Katup ini berguna untuk mencegah darah yang sudah masuk ke aorta (pembuluh nadi terbesar) agar tidak kembali ke jantung lagi. Lihat struktur jantung pada Gambar 1.6.


 






















                                                                                                                                   Sumber: www.wikipedia.org
Gambar 1.6 Struktur Jantung Manausia
2.    Fungsi Jantung

Jantung memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu sebagai alat pemompa darah keseluruh tubuh. Dari jantung, darah diatur dan dialirkan melalui pembuluh darah ke seluruh bagian tubuh. Jantung bekerja sesuai dengan perintah saraf otonom yang berpusat diotak. Jantung dipengaruhi oleh keadaan kontraksi dan relaksasi (mengembang dan mengerut).
Cara kerja jantung adalah sebagai berikut. Serambi jantung mengembang sehingga darah dari seluruh tubuh yang kaya karbondioksida masuk ke serambi kanan. Sementara itu darah dari pembuluh balik paru-paru (vena pulmonalis) yang kaya oksigen masuk ke serambi kiri. Serambi jantung mengempis dan bilik mengembang sehingga darah masuk ke bilik. Darah dari serambi kanan masuk ke bilik kanan. Darah dari serambi kiri masuk ke bilik kiri. Karena adanya katup berdaun dua dan katup berdaun tiga maka darah tidak dapat kembali lagi ke serambi. Bilik jantung mengempis sehingga darah dari bilik kiri yang kaya oksigen di pompakan dengan kuat ke seluruh tubuh, sedangkan darah dari bilik kanan yang kaya karbondioksida di pompakan ke paru-paru untuk di bersihkan. Cara kerja jantung dapat di lihat pada Gambar 1.7.
























 


Gambar 1.7 Arah aliran darah dari dan menuju jantung
 
 




























                                                                                               
C.  Struktur dan Fungsi Pembuluh Darah

Pembuluh darah merupakan bagian dari sistem peredaran darah  yang berfungsi mengalirkan darah. Pembuluh darah pada manusia terdiri dari pembuluh nadi (arteri), pembuluh balik (vena), dan pembuluh kapiler. Ketiga pembuluh darah tersebut mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda yaitu sebagai berikut.

1.    Pembuluh Nadi (Arteri)
Pembuluh nadi adalah pembuluh yang mengalirkan darah dari jantung keseluruh tubuh dan paru-paru. Penyempitan pembuluh nadi oleh timbunan lemak dapat menimbulkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Letak pembuluh nadi agak tersembunyi atau di dalam permukaan tubuh. Hanya bagian-bagian pembuluh nadi tertentu di dekat permukaan tubuh yang dapat dirasakan denyutnya, misalnya pada pergelangan tangan dan leher. Dinding otot pembuluh nadi lebih tebal, kuat, dan bersifat elastis dibandingkan dengan pembuluh balik. Lihat Gambar 1.8.





Text Box:


Text Box:

 









                                                                     








 

Gambar 1.8 Struktur Pembuluh Nadi
 

 



Hal ini sesuai dengan peranannya, yaitu membantu pemompaan jantung dalam peredaran darah. Darah yang keluar dari jantung melalui dua pembuluh nadi. Pembuluh nadi pertama, keluar dari bilik kiri (ventrikel kiri). Pembuluh nadi ini membawa darah yang kaya oksigen untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Pembuluh darah ini disebut nadi besar (aorta). Pada pangkal aorta terdapat katup berbentuk bulat sabit (valvula semilunaris) yang berfungsi mengatur agar darah yang keluar dari jantung tetap searah.

Pembuluh nadi kedua, keluar dari bilik kanan (ventrikel kanan). Pembuluh nadi ini membawa darah dari seluruh tubuh yang kaya karbondioksida menuju ke paru-paru. Pembuluh darah ini disebut pembuluh nadi paru-paru (arteri pulmonalis). Lihat kembali Gambar 1.6.

2.    Pembuluh Balik (Vena)
Pembuluh balik adalah pembuluh yang mengalirkan darah dari seluruh tubuh dan paru-paru menuju jantung. Pembuluh balik umumnya terletak di permukaan tubuh. Banyak pembuluh balik yang dapat kita amati dengan mudah. Pembuluh darah yang tampak kebiruan dibawah kulit adalah pembuluh balik. Kita tidak dapat merasakan adanya denyutan pada pembuluh balik.
Dinding otot pembuluh balik lebih tipis dibandingkan pembuluh nadi, tetapi diameternya lebih besar dan tidak elastis. Di sepanjang pembuluh balik banyak terdapat katup. Katup-katup tersebut membuat darah hanya mengalir hanya ke satu arah, yaitu ke jantung.










Text Box:
 

Struktur pembuluh balik dapat di lihat pada Gambar 1.9.


Text Box:
 


















                                                                                        Sumber: www.wikipedia.org

Gambar 1.9 Struktur Pembuluh Balik

Pada manusia, pembuluh balik secara garis besar dibedakan menjadi dua macam, yaitu pembuluh balik paru-paru dan pembuluh balik tubuh. Pembuluh balik paru-paru (vena pulmonalis) adalah pembuluh balik yang membawa darah dari paru-paru ke serambi kiri (atrium kiri) jantung. Pembuluh balik paru-paru membawa darah yang kaya oksigen. Pembuluh balik berukuran besar, terdiri dari pembuluh balik atas (vena cava superior) dan pembuluh balik bawah (vena cava inferior).

Pembuluh balik atas membawa darah dari tubuh bagian atas, misalnya kepala dan lengan. Sedangkan pembuluh balik bawah membawa darah dari tubuh bagian bawah. Kedua pembuluh balik tersebut bermuara ke serambi kanan (atrium kanan) jantung dan membawa darah yang kaya karbondioksida. Karbondioksida merupakan sisa pembakaran yang terjadi pada seluruh bagian tubuh.
Tabel 2 perbedaan antara arteri dan vena
No
pembeda
Pembuluh darah arteri
Pembuluh darah vena
1
Dinding / pembuluh
Lebuh tebal
Lebih tipis
2
Lumen / saluran
Sempit
Luas
3
katub
Tidak ada
Ada di sepanjang pembuluh, berfungsi untuk mencegah terjadinya arus balik, sehingga arah aliran hanya ke satu arah
4
Aliran darah
Meninggalkan jantung
Menuju jantung
5
Tekanan darah
Kuat
Lemah
6
denyutan
Terasa, seirama dengan denyut jantung
Tidak ada










3.     Pembuluh Kapiler
Pembuluh kapiler merupakan pembuluh darah yang sangat halus dan langsung berhubungan dengan sel-sel jaringan tubuh. Dinding pembuluh kapiler hanya berupa selapis sel. Pembuluh kapiler menghubungkan ujung pembuluh nadi terkecil (arteriola) dengan ujung pembuluh balik terkecil (venula). Di dalam pembuluh kapiler inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Struktur pembuluh kapiler dapat dilihat pada Gambar 1.10.











 


Gambar 1.10 (a) struktur pembuluh kapiler. (b) hubungan antara pembuluh nadi, pembuluh kapiler, dan pembuluh balik.
 
 



















Sistem Peredaran Darah Manusia
Peredaran darah pada manusia disebut peredaran darah tertutup karena selalu beredar di dalam pembuluh darah. Pada system peredaran darah tertutup, darah tidah pernah langsung masuk kedalam jaringan tubuh, tetapi selalu melalui pembuluh-pembuluh darah. Peredaran darah manusia juga disebut peredaran darah rangkap (ganda), karena dalam sekali beredar, darah selalu melewati jantung sebanyak dua kali.
Peredaran darah ganda terdiri dari peredaran darah ganda (peredaran darah pendek), dan peredaran darah besar (peredaran darah panjang).
Ø Pada peredaran darah kecil, darah dari jantung mengalir ke paru-paru dan kembali ke jantung.
Jantung (bilik kanan)         pembuluh nadi paru-paru            paru-paru            pembuluh balik paru-paru            jantung (serambi kiri)
Secara singkat: jantung             paru-paru

Ø Pada peredaran darah besar, darah dari jantung mengalir ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung.






 




















Secara singkat :
 








 


Gambar 11 sistem peredaran darah manusia
 
 





































Golongan Darah
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut:
ü Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
ü Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.
ü Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
ü Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Rhesus
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+ adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B.
Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+ sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan karena faktor Rh dapat memengaruhi janin pada saat kehamilan.










Text Box:   















                                                                                    Sumber: www.wikipedia.org
                Gambar 1.12 golongan darah
Agglutinogen memiliki dua jenis yaitu A dan B, begitu juga agglutinin memiliki jenis a dan b.
ü Golongan darah A jika mengandung agglutinogen A di sel-selnya dan agglutinin b di plasma-nya.
ü Golongan darah B jika mengandung agglutinogen B di sel-selnya dan agglutinin a di plasma-nya.
ü Golongan darah AB jika mengandung agglutinogen A dan B di sel-selnya dan tidak memiliki agglutinin di plasma-nya.
ü Golongan darah O jika tidak memiliki aggllutinogen di sel-selnya dan memiliki agglutinin a dan b di plasmanya. 
Perbedaan inilah yang kemudian dikelompokkan menjadi penggolongan darah. Golongan darah yang dikenal adalah ABO dan Rh (Rhesus). Golongan darah ABO terdiri dari golongan darah O, A, B, dan AB. Dan penggolongan berdasarkan faktor Rh terbagi menjadi Rh+ dan Rh-. Golongan darah juga diturunkan berdasarkan golongan darah ayah dan ibu. Jika orang tua kamu ada yang bergolongan darah O, maka kamu dan saudara-saudara kamu sekandung akan memiliki kemungkinan bergolongan darah O atau golongan darah lainnya kecuali AB. Sebaliknya, jika orang tua kamu ada yang bergolongan darah AB maka kamu akan berpeluang memiliki golongan darah A, B, AB, dan tidak mungkin bergolongan darah O.
Golongan darah berguna pada saat kita mau melakukan transfusi darah. Yaitu proses tranfer darah ke mereka yang membutuhkan, misal karena kekurangan darah oleh sebab kecelakaan, penyakit,atau sebab lain. Darah yang di berikan kepada orang yang menerima harus ”cocok”. Jika tidak akan terjadi masalah yang fatal, bahkan kematian.











Kelainan Dan Penyakit Pada Sistem Peredaran Darah
Kelainan dan penyakit pada sistem peredaran darah sering kita jumpai pada seseorang. Kelainan dan penyakit tersebut  dapat disebabkan oleh faktor keturunan (genetis), adanya kerusakan pada sistem peredaran darah, dan faktor-faktor lain yang belum diketahui. Kelainan dan penyakit tersebut antara lain anemia, thalasemia, hemofilia, leukimia, leukopenia, hipertensi, dan koronariasis. 
Ø Anemia
Anemia sering disebut sebagai penyakit kurang darah. Kurang darah terjadi karena kandungan hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah rendah atau berkurangnya sel darah merah. Berkurangnya kandungan Hb dapat disebabkan makanan yang kurang  mengandung zat besi. Berkurangnya sel darah merah sering terjadi pada penderita penyakit malaria. Hal ini karena plasmodium sebagai penyebab penyakit malaria memakan sel darah merah. Demikian pula penderita penyakit cacing tambang juga sering mengalami anemia.
Apabila penyebab anemia karena kekurangan zat besi sehingga Hb rendah, maka harus mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi, misalnya hati, daging, dan sayuran hijau.

Ø Thalasemia
Thalasemia merupakan penyakit anemia yang diturunkan. Thalasemia sering terdapat pada bayi dan anak-anak. Pada penderita thalasemia, daya ikat sel darah merahnya terhadap oksigen rendah karena kegagalan pembentukan hemoglobin. Penderita thalasemia berat (thalasemia mayor) membutuhkan transfusi darah setiap bulan.

Ø Hemofilia
Hemofilia merupakan penyakit yang menyebabkan darah sukar membeku bila terjadi luka. Kelainan ini disebabkan oleh faktor keturunan (genetis). Kelainan tidak dapat diobati, tetapi dapat di cegah. Penderita harus menghindari terjadinya pendarahan agar darah tidak mengalir terus.


Ø Leukimia
Leukimia atau kanker darah adalah penyakit bertambahnya sel darah putih yang tidak terkendali. Beberapa gejala leukimia:
·      Demam, kedinginan, dan gejala seperti flu
·      Badan lemah dan sakit kepala
·      Sering mengalami infeksi
·      Kehilangan berat badan
·      Berkeringat, terutama malam hari
·      Nyeri tulang atau sendi.

Ø Hipertensi
Hipertensi disebabkan oleh tekanan darah yang tinggi di dalam arteri. Hipertensi atau tekanan darah tinggi terjadi bila nilai ambang tekanan sistolik antara 140-200 mmHg atau lebih, dan nilai ambang tekanan ambang tekanan diastolic antara 90-110 mmHg atau lebih. Keadaan ini tidak bisa disembuhkan tetapi bisa dikontrol dengan pola hidup sehat dan obat-obatan. Pada penderita hipertensi dianjurkan tidak merokok, tidak minum minuman alcohol, diet rendah garam dan rendah lemak, olahraga secara teratur, dan istirahat bila lelah atau tegang.

Ø Koronariasis
Koronariasis merupakan penyempitan atau penyumbatan nadi (arteri koronaria) pada jantung. Melalui nadi tajuk tersebut jantung mendapat makanan dan oksigen. Nadi tajuk berukuran kecil sehingga bila tersumbat, denyut jantung dapat terganggu atau terhenti. Penderita yang terkena koronariasis akan merasakan sakit dibagian dada (jantung).

Ø Varises
Varises merupakan pelebaran pembuluh balik (vena). Varises biasanya terjadi dikaki terutama di bagia betis. Varises yang terdapat di dekat anus disebut ambeien. Varises merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak berbahaya.
D.  Komposisi Darah dan Fungsinya

Darah terdiri dari 45% komponen sel dan 55% plasma. Komponen tersebut adalah sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah berjumlah 99% dari total komponen sel, sisanya 1% sel darah putih dan platelet. Plasma terdiri dari air 90% dan 10% sisanya dari protein plama, elektrolit, gas terlarut, berbagai produk sampah metabolisme, nutrien, vitamin, dan kolesterol.
Protein plasma terdiri dari albumin, globulin, dan fibrinogen, albumin merupakan protein plasma yang paling banyak dan membantu mempertahankan tekanan osmotik plasma dan volume darah. Globulin mengikat hormon yang tidak larut dan sisa plasma lainnya agar dapat larut.

E.  Proses Eritropoiesis
Sel darah merah adalah salah satu komponen darah yang menempati 42-45 % volume darah 5 hingga 5,5 liter pada orang dewasa. Persentase volume darah total yang ditempati oleh sel darah merah dikenal sebagai hematokrit. Sel darah merah berbentuk bulat bikonkaf, berwarna merah, tidak memiliki nukleus dan organel-organel, tetapi dipenuhi oleh hemglobin, yaitu molekul yang mengandung besi yang dapat berikatan dengan O2 secara longgar dan reversibel.
                                                   
Pembentukan (Eritropoiesis)
Sel darah merah tidak memiliki nukleus, oleh karena itu sel ini tidak dapat mensintesis DNA untuk membentuk protein yang digunakan dalam pertumbuhan, pembelahan dan perbaikan sel. Maka dari itu sel darah merah hanya mampu bertahan rata-rata 120 hari dengan hanya berbekal sedikit zat-zat yang disintesis sebelum nukleus dan organel-organel dikeluarkan pada fase pembentukan sel darah merah/eritropoiesis di dalam sumsum tulang merah (Baldy, 2006). Produksi sel darah merah oleh sumsum tulang merah dalam keadaan normal seimbang dengan kecepatan lenyapnya sel darah merah yang sudah tua dalam organ limpa dan hati, sehingga hitung sel darah merah konstan.
Eritropoiesis dirangsang oleh eritopoietin, hormon yang dikeluarkan ginjal sebagai respon terhadap peningkatan kapasitas mengangkut O2 oleh sel darah merah akibat kebutuhan O2 oleh jaringan yang semakin meningkat atau kurang teroksigenisasinya suatu jaringan. Berikut gambaran proses eritropoiesis dan kontrol umpan balik negatif (Sacher dan Richard,2004; Sheerwood,2001):
Proses dimana eritrosit diproduksi dinamakan eritropoiesis. Secara terus-menerus, eritrosit diproduksi di sumsum tulang merah, dengan laju produksi sekitar 2 juta eritrosit per detik (Pada embrio, hati berperan sebagai pusat produksi eritrosit utama). Produksi dapat distimulasi oleh hormon eritropoietin (EPO) yang disintesa oleh ginjal. Hormon ini sering digunakan dalam aktivitas olahraga sebagai doping. Saat sebelum dan sesudah meninggalkan sumsum tulang belakang, sel yang berkembang ini dinamai retikulosit dan jumlahnya sekitar 1% dari seluruh darah yang beredar.
Eritrosit dikembangkan dari sel puncak melalui retikulosit untuk mendewasakan eritrosit dalam waktu sekitar 7 hari dan eritrosit dewasa akan hidup selama 100-120 hari.
Eritropoiesis :

Sel Bakal Pluripoten → Sel Bakal Mieloid → BFU-E (burst forming unit erythroid) → CFU-E (colony forming unit erythroid) → Proeritroblas → Basofilik Eritroblas → Polikromatofilik Eritroblas → Ortokromatofilik Eritroblas → Retikulosit → Eritrosit (sel darah merah).

Kontol umpan balik negatif :
Kebutuhan jaringan akan O2 → Peningkatan kapasitas mengangkut O2 → Ginjal mensekresi eritropoietin → Eritropoiesis meningkat di sumsum tulang → Produk sel darah merah meningkat → Oksigenisasi jaringan terpenuhi → Ginjal menurunkan jumlah sekresi eritropoietin.




F.   Proses Pengangkutan oksigen (O2)
Metabolisme aerob berperan dalam pembakaran nutrien dan membentuk energi. Proses ini menggunakan oksigen (O2) dan menghasilkan karbodioksida (CO2). Sistem sirkulasi berperan mengantarkan O2 dan nutrien ke jaringan tubuh, kemudian mengambil CO2 yang terbentuk. Peran ganda dari sistem sirkulasi dalam hal transportasi oksigen dan karbondioksida disebut sebagai fungsi respirasi darah.
Sistem transportasi oksigen terdiri dari sistem paru dan sistem kardiovaskular. Proses pengantaran ini tergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi), aliran darah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan difusi dan kapasitas membawa oksigen. Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang larut dalam plasma, jumlah hemoglobin dan kecenderungan hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen (Ahrens, 1990). Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar oksigen ditransportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa O2 dan CO2.
Molekul hemoglobin dicampur dengan oksigen untuk membentuk oksi hemoglobin.Pembentukan oksi hemoglobin dengan mudah berbalik (revesibel), sehingga memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas. Sehingga oksigen ini biasa masuk ke dalam jaringan. Adapun dalam sistem transpornya O2 dapat dibagi menjadi 2:
• 1,5% O2 terlarut di plasma.
• 98,5% O2 berikatan dengan hemoglobin membentuk oksihemoglobin.
Dengan tingginya tekanan parsial O2 (PO2) di darah dibanding di jaringan, maka O2 akan ditranspor dari darah ke jaringan. Faktor yang dapat mempengaruhi transpor O2 selain PO2 adalah pH, PCO2, suhu, & 2,3 BPG. Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi afinitas O2.
            Transpor oksigen merupakan bagian dari proses eksternal respirasi, yaitu pertukaran gas antara atmosfir dan paru-paru, pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara paru-paru dan darah, transpor oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan pertukaran gas antara darah dan sel. Normalnya, sekitar 97% oksigen ditranspor dari paru-paru ke jaringan terikat dengan hemoglobin dan sisanya 3% terlarut dalam plasma. Untuk memonitor oksegenasi dalam jaringan digunakan beberapa parameter seperti oxygen delevery (DO2), oxygen Content ( CaO2) , tekanan parsial oksigen, saturasi oksigen, dan oxygen consumption (VO2). Terapi oksigen harus segera diberikan pada keadaan-keadaan hipoksemia atau yang dicurigai hipoksemia, Evaluasi terapi oksigen dapat dilakukan dengan pemeriksaan fungsi sistem kardiopulmoner dan analisa gas darah (J Med Nus. 2006;26 : 134-140). Transpor O2 dari paru ke jaringan diuraikan menjadi 4 parameter, yaitu:
 a. Konsentrasi O2 di dalam darah
 b. Kecepatan pengantaran/pengiriman (delivery) O2 di darah arteri
 c. Kecepatan pengambilan (uptake) O2 dari kapiler darah ke jaringan
 d. Fraksi O2 di kapiler darah yang masuk ke jaringan.

Oksigen tidak mudah larut di dalam air. Sekitar 93% plasma adalah air sehingga untuk memudahkan oksigenisasi darah diperlukan molekul khusus pengikat oksigen, yaitu hemoglobin. Konsentrasi oksigen (O2) dalam darah, juga disebut kandungan O2 (O2 content), merupakan gabungan O2 yang terikat pada hemoglobin dan O2 yang terlarut dalam plasma.
Konsentrasi O2 yang terikat pada hemoglobin (HbO2) ditentukan oleh variabel pada persamaan –> HbO2 = 1.34 x Hb x SO2
Hb adalah konsentrasi hemoglobin dalam darah dan biasa dinyatakan dalam gram per 100 militer (g/dL). Angka 1,34 adalah kapasitas pengikatan oksigen oleh hemoglobin. (dinyatakan dalam mL O2 per gram Hb). SO2 adalah rasio hemoglobin yang mengikat oksigen terhadap jumlah total hemoglobin dalam darah (SO2 = HbO2/total Hb), juga disebut saturasi O2 dari hemoglobin. HbO2 dinyatakan dengan satuan yang sama dengan Hb (g/dL).
Pada persamaan 1 diketahui bila hemoglobin tersaturasi semua dengan O2 (misal, bila SO2=1), maka tiap gram hemoglobin akan mengikat 1,34 mL oksigen. Satu gram hemoglobin secara normal mengikat 1,39 mL oksigen. Namun ada fraksi kecil (3-5%) dari hemoglobin dalam sirkulasi yaitu methemoglobin dan karboksihemoglobin, yang memiliki kapasitas pengikatan O2 rendah. Sehingga angka yang lebih rendah, 1,34 mL/g, lebih representatif sebagai kapasitas pengikatan O2 dari hemoglobin total.
Konsentrasi O2 terlarut dalam plasma ditentukan oleh kelarutan O2 dalam air (plasma) dan tekanan parsial oksigen (PO2) dalam darah. Kelarutan O2 dalam air dipengaruhi suhu (kelarutan akan meningkat saat suhu menurun). Pada suhu tubuh normal (37º), 0,03 mL O2 akan larut dalam 1 liter air saat PO2 1 mmHg. Nilai ini dinyatakan sebagai koefisien kelarutan yaitu 0,03 mL/L/mmHg (atau 0,003 mL/100 mL/mmHg. Konsentrasi O2 terlarut (dalam mL/dL) (pada suhu tubuh normal) dinyatakan dalam persamaan –> O2 terlarut = 0,003 x PO2
Persamaan ini menunjukkan bahwa kelarutan oksigen dalam plasma sangat kecil. Misalnya, jika PO2 100 mmHg maka 1 liter darah hanya akan mengandung 3 mL O2 terlarut.
Konsentrasi O2 dalam darah arteri (CaO2) dapat dihitung dengan menggabungkan persamaan 1 dan 2 serta menggunakan saturasi O2 dan PO2 dari darah arteri (SaO2 dan PaO2) –> CaO2 = (1,34 x Hb x SaO2) + (0,003 x PaO2)
Ada sekitar 200 mL O2 dari tiap liter darah arteri dan hanya 1,5% (3 mL) yang terlarut dalam plasma. Konsumsi oksigen rata-rata orang dewasa adalah 250 mL/menit, yang berarti jika orang dewasa terpaksa hanya menggunakan O2 terlarut dalam plasma maka diperlukan curah jantung (cardiac output) 89 L/menit untuk mempertahankan metabolisme aerob. Hal ini menunjukkan pentingnya hemoglobin dalam hal transport oksigen.
Konsentrasi O2 dalam darah vena (CvO2) dapat dihitung dengan cara yang sama dengan CaO2, menggunakan saturasi O2 dan PO2 dari darah vena (SvO2 dan PvO2) –> CvO2 = (1,34 x Hb x SvO2) + (0,003 x PvO2)
Volume total O2 dalam sirkulasi darah dapat dihitung dari volume darah dan konsentrasi O2 dalam darah. Jumlah volume O2 dalam darah arteri dan vena adalah 805 mL. Untuk memahami gambaran terbatasnya volume O2, maka ingat bahwa konsumsi O2 seluruh tubuh dari orang dewasa rata-rata saat istirahat adalah sekitar 250 mL/menit. Artinya, volume total O2 di dalam darah cukup menopang metabolisme aerob hanya untuk selama 3-4 menit. Jadi jika pasien berhenti napas, kita hanya punya sedikit waktu yang berharga (hitungan menit) untuk memulai tindakan bantuan napas sebelum persediaan oksigen dalam darah habis.
Keterbatasan jumlah O2 dalam darah juga diperlihatkan oleh metabolisme oksidatif glukosa, yang tertulis dengan rumus:
            C6H12O6 + 6O2 –> 6CO2 + 6H2O.
Rumus ini menunjukkan bahwa oksidasi sempurna dari 1 mol glukosa membutuhkan 6 mol glukosa. Untuk menentukan apakah O2 dalam darah cukup untuk memetabolisme glukosa dalam darah, perlu diketahui jumlah glukosa dan oksigen dalam darah dalam satuan milimol (mmol). Nilai yang tampak di sini berdasarkan kadar glukosa darah 90 mg/dL atau 90/180 = 0,5 mmol/dL, volume darah 5 liter, dan O2 darah total 805 mL atau 805/22,4 = 36,3 mmol:
 a. Glukosa total dalam darah: 25 mmol
 b. O2 total dalam darah: 36,3 mmol
 c. O2 yang dibutuhkan untuk metabolisme glukosa: 150 mmol
 d. Hal di atas menunjukkan O2 di dalam darah hanya 20 hingga 25% dari jumlah yang dibutuhkan untuk metabolisme oksidatif glukosa dalam darah.

G. Proses Pengangkutan Karbondioksida
Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik (ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan keseluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena menuju serambi kanan (atrium) jantung.
Transport Karbondioksida Yaitu:
ü Kelarutan karbondioksida lebih besar daripada oksigen. Namun pengangkutan karbondioksida tak dapat dilakukan hanya dengan mengandalkan kelarutannya. Karbondioksida dalam plasma darah terutama diangkut dalam bentuk ion bikonkaf (HCO3). CO2 berdifusi kedarah dari sel jaringan yang memprodiksinya (sel yang bermetabolisme).

Pengangkutan dilakukan dengan cara:
·   
Na2HPO4 + H2CO3               NaH2PO4 + NaHCO3
 
Sejumlah kecil CO2 bereaksi dengan air di plasma membentuk asam karbonat (H2CO3). Laju pembentukan senyawa ini rendah. Hanya sedikit CO2 yang diangkut dalam bentuk H2CO3. Asam karbonat yang terbentuk bereaksi dengan berbagai sistem bufer dalam darah sehingga tidak mengubah pH darah.
 

·   
CO2 + H2O          H2CO3 H+ + HCO3-
 
Sebagian besar CO2 berdifusi dari plasma masuk kebutir darah merah. Maka terbentuk H2CO3, prosesnya dipercepat dengan bantuan enzim anhidrase karbonat. Dan senyawa tersebut terionisasi menjadi ion bikarbonat dan hidrogen.


 


·   
KHb + H2CO3                KHCO3 + HHb
 
Sebagian dari asam karbonat yang terbentuk dibutir darah merah yang telah diuraikan diatas tetap berada di dalam dan bereaksi dengan hemoglobin. Hbo2 dan HHb bersama-sama membentuk system buffer di dalam butir darah merah agar asam karbonat tidak mengubah pH.


 


·   
COOH

H
 
Akhirnya, beberapa CO2 yang terlarut masuk kebutir darah merah kemudian bereaksi langsung dengan gugus amino (- NH2) pada HbO2 membentuk senyawa karbamino disebut karbhemoglobin.
H
 








Gambar 1.13 Mekanisme pengangkutan karbondioksida
 
Hb - N
 
Hb - N
 
CO2
 
+
 
H
 
H
 
































BAB III PENUTUP
A.  KESIMPULAN
Darah Mengalir ke seluruh tubuh manusia melalui sistem peredaran darah. System peredaran darah didukung oleh alat-alat peredaran darah. Yaitu jantung dan pembuluh darah.
Darah berfungsi:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar